SEJARAH DESA

fotobalaidesamalam

Sejarah Desa Temuireng Kecamatan Petarukan Kabupaten Pemalang belum diketahui secara pasti tentang asal-mulanya Desa disebut Temuireng. Belum ditemukan literatur-literatur yang menyebutkan secara jelas tentang Desa Temuireng.
Menurut keberadaan berdasarkan eksistensi Pemalang pada abad XVI yang dihubungkan dengan catatan Rijklof Van Goens dan data di dalam buku W Fruin Mees yang menyatakan bahwa pada tahun 1575 Pemalang merupakan salah satu dari 14 daerah merdeka di Pulau Jawa, yang dipimpin oleh seorang pangeran atau raja. Dalam perkembangan kemudian, Senopati dan Panembahan Sedo Krapyak dari Mataram Islam menaklukan daerah-daerah tersebut, termasuk di dalamnya Pemalang. Sejak saat itu Pemalang menjadi daerah vasal Mataram Islam yang diperintah oleh Pangeran atau Raja Vasal/bawahan.
Berdasarkan temuan arkeologis pada masa Kerajaan Mataram Islam di Desa Temuireng terdapat bangunan Suci. Bangunan itu berupa Candi atau punden berundak dan Sumurgede yang dipercayai sebagai tempat yang disakralkan. Hal ini berhubungan bahwa Desa Temuireng sendiri merupakan daerah Sima atau Perdikan, yaitu daerah yang bebas pajak pada zaman itu. Dari Candi tersebut dipercayai sebagai makam dari tokoh bangsawan mataram Islam yaitu Singomenggolo. Letak Candi ini berada disebelah Barat dari Kantor Balai Desa Temuireng di belakang masjid jami. Beliau merupakan orang yang dipercayai sebagi pembuka dan menempati desa Temuireng pertama kali yang bernama Nyai Denok. Oleh Nyai Denok yang merupakan cikal-bakal asal mula Desa Temuireng ini. Beliau bisa dikatakan orang yang pertama kali menempati atau membuka desa Temuireng ini.
Sedangkan berdasarkan cerita tutur yang menjadi tradisi turun-temurun berkembang di masyarakat Temuireng, dipercaya suatu cerita tentang asal-usul nama Temuireng. Dikisahkan oleh Sutarjo (65 tahun) seorang sesepuh tokoh masyarakat atau mantan kepala desa Temuireng masa bakti 1981-1989. Kata Temuireng berasal dari dua kata yaitu “Temu” dan “Ireng”. Bila dalam Bahasa Indonesia Temuireng berarti tumbuhan jamu Temu Hitam. Kedua kata tersebut merujuk pada suatu obat-obatan tradisional/herbal yang biasa disebut juga rempah-rempah.
Dalam Babad Temuireng diceritakan pada zaman pra mataram Islam. Keberadaan Temuireng sendiri bila dihubungkan dengan sejarah Pemalang Temuireng merupakan hutan belantara. Di hutan ini banyak ditumbuhi oleh tanaman obat-obatan Temuireng yang tumbuh alami. Sehingga untuk menamai desa yang sangat luas itu, akhirnya dengan banyaknya tanaman Temuireng yang tumbuh alami tersebut dijadikan nama Desa Temuireng.
Temuireng dengan dilihat dari filosofi hidup yang merupakan tanaman obat-obatan alami oleh masyarakat jawa memiliki arti “Legowo”, yaitu sejahtera atau makmur. Hal ini ada kaitannya dengan Tanaman Temuireng tersebut yang membuat Temuireng sebagai jamu atau obat herbal. Dengan jamu tersebut sehingga membuat tubuh menjadi sehat. Dari kesehatan inilah setiap masyarakat mampu merubah segalanya dalam hidup. Sehingga ada pepatah juga bahwa kesehatan itu mahal harganya. Memang benar dengan apa yang terjadi dengan Desa Temuireng ini dengan kesehatan ini hingga bisa memperoleh kesejahteraan dan ketentraman. Hal ini sangat terkenal karena sudah menjadi turun temurun bahwa masyarakat Temuireng sebagian besar menjadi pegawai di lingkungan pemerintahan Kabupaten Pemalang.
Perlu diketahui juga dalam sejarah Desa Temuireng dibagi menjadi enam dusun yang sebelumnya ada empat dusun. Hal ini dengan dibuat enam dusun sebagai pemerataan pajak dan pendapatan masyarakat. Pembagian menjadi enam dusun ini dilakukan pada masa pemerintahan Kepala Desa Sutarjo (1981-1989) hingga sampai sekarang. Ke-enam dusun ini antara lain:

  1. Dusun I disebut Blok Temuireng
    Dinamakan Blok Temuireng karena di Dusun I ditempati kantor Kepala Desa Temuireng yang membawahi semua Dusun. Sehingga di Dusun I dapat dikatakan sebagai pusat pemerintahan Desa Temuireng.

 

  1. Dusun II disebut Blok Pilang Bango
    Dinamakan Blok Pilang Bango karena di Dusun II berbatan langsung dengan persawahan. Sehingga pilang itu diartikan dari sawah sedangkan Bango sendiri memang dahulu banyak ditemukan burung Bango di Dusun II ini sebagai tempat tinggalnya

 

  1. Dusun III disebut Blok Sumur Gede

Dinamakan Sumur Gede karena di Dusun III terdapat Sumur Gede. Sumur Gede ini dahulu seperti mata air alami dengan sumbernya pohon beringin Konon pada zaman dajulu diguakan Raden Werkudoro sebagai tempat pertapanya. Hal ini dapat diketahui dengan bukti telapak kaki Raden Werkudoro. Sehingga Sumur Gede ini sampai sekarang dikramatkan oleh masyarakat sekitar.

  1. Dusun IV disebut Blok Gayam

Dinamakan Gayam karena di Dusun IV ini pada dahulu banyak Tumbuhan Gayam. Gayam sendiri merupakan tumbuhan keras yang hampir mirip dengan Tumbuhan Jengkol tapi empuk ketika direbus dan bisa dijadikan makanan pengganti nasi pada saat jaman susah pangan(jaman GESTAPU/Pemberontakan PKI) dan tumbuh didekat sungai. Tetapi tumbuhan Gayam ini sudah sulit ditemukan di Dusun IV ini.

  1. Dusun V disebut Blok Sibeser dan Sijeruk

Dinamakan Sibeser dan Sijeruk karena pada Dusun V ini pada zaman dahulu merupakan daeah yang kritis dengan permukaan tanahnya yaitu terjal. Sehingga permukannya tidak rata yang membuat bagian utara sangat rendah. Dengan kerendahan ini memiliki banyak air. Sehingga keadaan tanahnya becek. Dan tanaman yang mendukung pada lahan tersebut yang sangat banyak adalah jeruk sehingga dinamakan Sibeser dan Sijeruk. Tetapi hal ini juga sudah tidak ditemukan tanaman jeruk dan permukaan becek karena sudah ditimbun tanah.

  1. Dusun VI disebut Blok Siceleng

Dinamakan Siceleng karena pada Dusun VI pada zaman dahulu keberadaanya adalah hutan belantara. Hutan ini banyak dijumpai Celeng atau Babi Hutan. Keberadaan Siceleng konon lebih dahulu ada dari pada Temuireng dengan tokohnya salah satunya almarhum mbah Narso.